Hoax (Berita Bohong) Adalah Kejahatan Demokrasi

0
42
Kemendagri Selenggarakan Kemendagri Media Forum (KMF) yang memaparkan hasil riset Sindikasi Pemilu dan Demokrasi bersama Founding Father House bertema Pancasila, Hoax, dan Toleransi : Ancaman Pemilu 2019. (Ist)

JAKARTA (suara-karya.com):  Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan lembaga penggiat pemilu dalam hal ini Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD) dan Faunding Fhaters House (FFH), yang selama ini menjalin kemitraan, baik dalam penyusunan Undang-Undang Pemilu maupun hasil kajian-kajian demokrasi lainnya, memaparkan hasil kajian mengenai Hoax dan toleransi sebagai ancaman terhadap Pemilu 2019.

Paparan kajian tersebut disampaikan dalam acara Kemendagri Media Forum yang diselenggarakan di Kantor Pusat Kemendagri Jl. Medan Merdeka Utara No. 7, Jakarta Pusat, Jumat (1/2).

Kapuspen Kemendagri Bahtiar (Ist)

Pada kesempatan tersebut Erik Kurniawan, Peneliti Senior Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD) memandu langsung acara dengan menghadirkan Kapuspen Kemendagri Dr Bahtiar, M.Si, , Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata,  dan Peneliti Senior Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD) dan juga mantan Komisioner Bawaslu RI periode 2012 – 2017 Daniel Zuchron sebagai narasumber.

Dian Permata kemudian memaparkan hasil survei yang dilakukan terhadap mahasiswa di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat mengenai ancaman Pemilu 2019 yang meliputi Pancasila, hoax dan toleransi. Salah satu hasil rilisnya menyebut mayoritas responden percaya bahwa  ujaran kebencian akan memecah belah masyarakat. Tak hanya itu, responden juga percaya toleransi kian melemah di negeri ini.

“60 persen mahasiswa merasa ujaran kebencian akan memecah belah bangsa. Bahkan mahasiswa di Banten merasa toleransi kian melemah. Namun berita baiknya, para milenial masih percaya dan meyakini bahwa keutuhan Bangsa Indonesia masih bisa dipertahankan di tengah ancaman isu SARA dan Hoax,” ujarnya.

Sementara itu,  Daniel Zuchro mengatakan, politik uang dan isu SARA menjadi ancaman nyata Pemilu. Bahkan di era tsunami Informasi saat ini, negara harus mencerdaskan bangsa agar tidak tersesat dalam belantara digital. Ia pun menyebut, toleransi bukan lagi soal narasi atau wacana sehingga harus diimplementasikan untuk menjaga keutuhan bangsa.

Menanggapi hal itu,  Kapuspen Kemendagri Bahtiar mengingatkan Pancasila adalah abstraksi dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat di negara ini atau saripati inti dari falsafah, nilai-nilai  yang hidup dalam masyarakat, pengalaman, etika dan budaya bangsa Indonesia. Sehingga bangsa ini berkomitmen berikrar menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan pedoman hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Pemerintah saat ini telah mengembangkan inovasi dan berbagai metode dalam.memberikan  pemahaman mengenai Pancasila sebagai falsafah, ideologi dan pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ucapnya.

 Bahtiar menambahkan, nilai toleransi dan kerukunan  juga harus dihidupkan terus di tengah isu SARA dan harus dipastikan agar dinamika demokrasi tidak mengancam “Persatuan Indonesia”  seperti yang diatur dalam Sila Ketiga Pancasila.

Oleh karenanya, Bahtiar menyebutkan bahwa tingkat pendidikan politik dan kemampuan masyarakat  dalam melakukan penalaran, kemampuan memilih dan memilah informasi sangat dipenting dirawat.  Masyarakatlah yang menjadi sumber pertahanan utama dalam menangkal dan mencegah berkembangnya hoax atau berita bohong.

Karena itu,  ia  menggaungkan pentingnya membangun budaya literasi. Budaya gemar membaca  menjadi kian penting digalakkan agar masyarakat terus mengasah dan menambah ilmu pengetahuan, meningkatkan kecerdasan publik dalam menerima dan mengolah berbagai informasi, arif bijaksana dalam merespon berbagai dinamika yang kehidupan masyarakat saat ini. 

“Dan paling penting adalah kita semua harus memiliki kesadaran (siuman) sebagai warga bangsa sehingga tidak mudah diombang-ombingkan dan tidak mudah hanyut dalam sensasi berita bohong (hoax). Karena  Hoax adalah kejahatan dalam demokrasi,” kata Bahtiar. (Andreas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here