Kembalikkan Garuda di Dadaku, Bukan Memerasnya

0
114

Oleh : Ruslan Ismail Mage

Segerombolan burung yang terbang melintasi langit Indonesia tiba-tiba bertasbih memuji Tuhan. Maha Besar Engkau ya Allah telah menciptakan negeri se indah dan sekaya ini. Maha Kuasa Engkau ya Allah memindahkan surgamu ke negeri ini.

Bangga menjadi orang Indonesia, itu sudah pasti dan tidak perlu diragukan lagi. Rasa cinta tanah air tidak pernah akan bergeser sejengkal pun walau rupiah semakin tidak mencintai kami (rakyat kecil walaupun sudah bekerja seharian baru cukup untuk tidak kelaparan besok harinya). Bangga menjadi orang Indonesia, karena pendiri bangsa ini menyiapkan konsep kenegaraan yang jelas, menitipkan filosofi hidup yang agung, menyiapkan navigasi penunjuk arah perjalanan bangsa ke depan, dan mewariskan ideologi negara yang luar biasa dahsyatnya.

Ruslan Ismail Mage (Ist)

Kalau sejarah perjalanan bangsa Indonesia mampu melewati beberapa badai, itu karena kekuatan “Pancasila” dengan lima silanya dan 36 butirnya. Lalu kenapa mesti ada pemikiran ngawur menurut istilah Prof. Dr. Yudi Latif yang hendak memeras lima silanya. Kalau siburung garuda bisa berteriak, ia pasti sudah kehabisan suara berteriak mengingatkan “wahai anak-anak bangsa yang hidup di negeri surga, kalian telah melakukan kesalahan fatal kalau membiarkan lima silaku diperas menjadi trisila yang berujung ekasila. Suatu saat tanah negeri yang engkau cintai sebatas mulut saja, akan menghilang dalam peta dunia.

Menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan. Menyedihkan karena penguasa pasca reformasi hanya membiarkan Pancasila sebagai bangkai ideologi karena lebih tertarik memilih ideologi liberal dan sosialis yang ditawarkan oleh negara investor. Mengkhawatirkan karena penguasa pura-pura atau mungkin tidak mengetahui sama sekali kalau Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang di gagas oleh DPR tidak mencantumkan lagi TAP/MPR Nomor 25 tahun 1966 tentang dilarangnya idrologi komunis di indomesia.

Membayangkannya saja tidak kuat apalagi kalau menjadi kenyataan. Karena itu, wahai penguasa negeri, Pancasila sudah final. Jangan pernah membiarkan kelompok tertentu mengutak atik lagi lima silanya, apalagi memerasnya menjadi trisila berujung ke ekasila. Tugas pemerintahan sekarang, kembalikkan lima sila dan 36 butir Pancasila ke dalam dada setiap anak-anak bangsa melalui jenjang pendidikan terendah sampai universitas, bukan memeras silanya. (Salam kebhinnekaan : Bersatu dalam perbedaan tiada akhir)

Penulis : Founder Sipil Institute Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here