Pilkada Momentum untuk Mobilisasi Masyarakat Jadi Agen Perlawanan Covid-19

0
31

JAKARTA (suara-karya.com):  Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Bahtiar mengatakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tahun 2020, bisa jadi peluang untuk memobilisasi masyarakat agar mereka jadi agen perlawanan terhadap Covid-19.

Hal itu disampaikan Bahtiar saat menjadi narasumber dalam webinar yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia Group tentang Pilkada  di Jakarta, Selasa (5/8). Dalam webinar itu juga tampil sebagai pembicara Menkominfo Johnny G Plate,  Ketua KPU Arief Budiman, Ketua Bawaslu Abhan, Ketua DKPP Muhammad dan Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu  Astera Primanto Bhakti.

Bahtiar mengingatkan pemilihan kepala daerah bukan sesuatu yang tidak berdiri sendiri, tapi  bagian dari kehidupan kenegaraan dan  sistem sosial kebudayaan negara.

Pilkada Tahun 2020, kata Bahtiar, memang berbeda dengan pemilihan sebelumnya, karena digelar di tengah pandemi namun tetap memperhatikan protokol kesehatan. Negara lain, seperti Korea Selatan, tetap melangsungkan pemilihan di tengah pandemi. Dengan penerapan protokol kesehatan, pesta demokrasi di Korea bisa dikatakan sukses. Jadi kuncinya pada protokol kesehatan, mulai dari jaga jarak, rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer serta selalu pakai masker.

“Kita sudah memiliki pemhaman yang cukup siapa itu Covid-19. Covid-19 ini ternyata bisa diatasai paling tidak dengan empat hal, jaga jarak, cuci tangan dengan air sabun dan alat bahan-bahan lainnya, kemudian selalu pakai masker, kemudian mencegah kerumunan sosial,” kata dia.

Artinya, yang jadi potensi kluster penularan virus, kata Bahtiar, adalah ketika ada kerumunan. Dan, kerumunan itu tidak hanya terjadi dalam sebuah kontestasi politik saja seperti Pilkada, tapi juga kegiatan lain misal olahraga atau kegiatan keagamaan. Kuncinya, mencegah kerumunan itu.

 “Kita hormat dan respek kepada teman-teman KPU, Bawaslu, DKPP yang telah membuat aturan Adaptasi Kebiasaan Baru atau membangun sistem baru untuk mencegah seluruh tahapan penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020 ini tidak menjadi sarana yang terjadinya penularan itu. Sejumlah protokol-protokol kesehatan sudah dilakukan,” katanya.

Oleh karenanya, kata dia, tidak boleh memandang Pilkada ini semata hanya proses politik. Tapi ini terkait juga dengan sistem ekonomi, sosial dan lainnya. Karena itu sekarang yang sangat penting adalah bagaimana menjadikan proses pilkada  menjadi peluang positif melawan dan menanggulangi  pandemi dan dampaknya.

Petugas pemilihan KPU misalnya yang jumlahnya mencapai 3 juta orang lebih itu, menurut Bahtiar, akan menjadi agen perlawanan dalam melawan Covid-19. Mereka tidak hanya mensosialisaikan tahapan Pilkada, tapi sekaligus juga mensosialisasikan protokol kesehatan. (Andreas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here