Bang Karni dan Robohnya ILC di TvOne

0
261

Oleh: Ruslan Ismail Mage

Akademisi, inspirator dan penggerak, Founder Sipil Institute Jakarta

Judul tulisan ini terinspirasi dari cerpen fenomenal A.A Navis berjudul “Robohnya Surau Kami”. Cerpen yang dinilai sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia ini bercerita tentang seorang kakek penjaga surau (masjid ukuran kecil) yang protes ke Tuhan karena ternyata ketekunannya merawat surau (rumah Tuhan) dan beribadah setiap waktu tidak menolongnya masuk Surga.

Di hari penghitungan, ia dimasukkan ke dalam neraka. Ia pun protes dan menganggap Tuhan keliru. Dijelaskanlah kepadanya kenapa ia masuk neraka. Kamu tinggal di bumi Indonesia yang mahakaya raya, tapi engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya tapi kamu abaikan semua kekayaan negerimu.

Lalu apa hubungan “Robohnya Surau Kami” dengan Bang Karni? Apakah karena penulis novel terebut A.A Navis dan Karni Ilyas sama-sama orang Minang tempat para dewa penulis bersemayam? Untuk mendeskripsikan hubungannya, saya akan memulai dengan salah satu pernyataan Bang Karni ketika beberapa kali ILC harus rehat yang membuat penggemarnya gelisah menunggu.

Bang Karni mengatakan “Tidak semua yang saya tahu bisa saya katakan. Tidak semua yang saya alami bisa saya ceritakan. Cuitan Datuk Karni di Twitter, Selasa 13 Oktober 2020 ini langsung menyiratkan alasan kenapa ILC tidak muncul. Kontruksi pemikiran saya langsung teringat pada frase Adam Smit, “invisible hand”.

Frase Adam Smit ini lebih meyakinkan, ketika ILC yang begitu banyak penggemarnya tiba-tiba harus berhenti tayang sebagaimana pernyataan sang presiden ILC Selasa malam 15 Desember 2020 yang berpamitan kepada pemirsa tvone.

Dengan suara serak sebagai ciri khasnya, Bang Karni mengatakan “ini acara ILC terakhir tahun 2020 dan seterusnya tahun 2021 tidak tayang lagi. Kata perpisahan selalu mengandung energi kesedihan, tidak terkecuali ketika Bang Karni berpamitan kepada pemirsa tvone khususnya penggemar ILC. Ada kesedihan dibalik suara seraknya yang pasti akan selalu di rindukan penggemarnya.

Sebenarnya Kalau jeli melihat dan menganalisa setiap pemberitaan, sesungguhnya sejak munculnya berita beberapa waktu lalu yang menyebut Bang Karni terseret kasus lama jual beli tanah yang diduga aset negara di Labuan Bajo, NTT, saat itu alam mengirim pesan ILC akan menghilang di tvone. Ternyata pesan alam itu menjadi kenyataan. Tidak perlu lagi menjelaskan kenapa ILC berhenti tayang, karena pembaca pasti bisa menganalisa sendiri berdasarkan data fakta seringnya ILC gagal tayang setiap ada kasus besar yang menyita perhatian publik.

Jadi robohnya ILC di tvone adalah robohnya surau kami (tempat menonton) perdebatan intelektual berbasis data dalam mengkritisi setiap kebijakan pemerintah, sebagaimana negara yang mengaku demokrasi. Semoga cerita sang kakek penjaga surau yang mengawali tulisan ini menyadarkan kita semua, kalau negara besar dan kaya raya ini wajib dijaga, dipelihara, dan dipupuk, agar bertumbuh subur memakmurkan rakyatnya.

Silakan Bang Karni rehat sejenak, tapi jangan pernah berhenti menginspirasi kaum muda untuk terus menyuarakan kebenaran. Kami tahu dan paham Bang Karni lelah, tapi jangan pernah kaum jurnalis membiarkan bangsa ini dilanda defisit demokrasi. Mengacu Istiah Prof. Din Syamsuddin kebangrutan demokrasi. *

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here