Efektivitas Twitter Sebagai Sumber Informasi MBKM

0
174

Oleh : Victor A Simanjuntak S.Sos.,MSi

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya

Kampus merdeka merupakan kebijakan yang digagas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim agar mahasiswa mendapatkan kemerdekaan belajar di perguruan tinggi. Konsep ini pada dasarnya menjadi sebuah lanjutan dari sebuah konsep yang sebelumnya yaitu merdeka belajar.

Program Kebijakan Mahasiswa Belajar- Kampus Merdeka sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang memberikan kesempaatan bagi mahasiswa/i untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karier masa depan.

Melalui Mahasiswa Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), mahasiswa bisa mendapatkan keahlian dan keillmuan yang bisa tidak didapatkan dari kuliah di perguruan tinggi yang diikuti, tapi juga bisa menimba ilmu dari perguruan tinggi lain atau mitra kerjasama dari luar perguruan tinggi seperti perusahaan dan industri.

Terutama dengan hak mahasiswa untuk memperoleh Hak belajar selama 3 semester di luar prodi studi. Yakni  Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (sks).

Ada sejumlah keunggulan bagi mahasiswa untuk mengikuti kebijakan MBKM ini yakni pertama, Kegiatan praktik di lapangan akan dikonversi menjadi SKS, kedua, Eksplorasi pengetahuan dan kemampuan di lapangan selama lebih dari satu semester, ketiga; Belajar dan memperluas jaringan di luar program studi atau kampus asal dan keempat; Menimba ilmu secara langsung dari mitra berkualitas dan terkemuka (https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/).

Program Kampus Merdeka-Belajar Merdeka (MBKM) sangat bermanfaat bagi mahasiswa namun untuk itu diperlukan penyebaran informasi yang massif kepada mahasiswa agar mahasiswa mengetahui dan memahami program MBKM. Sehingga dengan demikian, akan semakin banyak mahasiswa yang tertarik terhadap program MBKM dan mendaftar sebagai peserta.

Informasi tentang program dan manfaat MBKM ini bisa diperoleh mahasiswa melalui perguruan tinggi. Namun, karena adanya pandemi Covid-19 sehingga mahasiswa tidak maksimal memperoleh informasi dan mendapatkannnya dari luar perguruan tinggi.

Informasi yang paling mudah didapatkan tentang program MBKM ini adalah melalui saluran media sosial seperti Twitter. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi juga sudah menyebarkan informasi tentang program MBKM di berbagai platform media termasuk media sosial Twitter.

Media sosial seperti Twitter telah menjadi media yang paling banyak digunakan untuk mencari informasi yang penting terkait kehidupan sehari-hari masyarakat, selain media cetak suratkabar dan majalah serta media elektronik televisi dan radio.  Twitter menjadi media sosial dengan pengguna terbanyak ketiga, (https://wearesocial.com/).

Twitter adalah sebuah situs jejaring sosial yang sedang berkembang pesat saat ini karena pengguna dapat berinteraksi dengan pengguna lainnya dari komputer ataupun perangkat mobile mereka dari manapun dan kapanpun. Setelah diluncurkan pada Juli 2006, jumlah pengguna Twitter meningkat sangat pesat. Pada September 2010, diperkirakan jumlah pengguna Twitter yang terdaftar sekitar 160 juta pengguna (Chiang, 2011).

Terutama bagi mahasiswa sebagai generasi milineal yang terbiasa gunakan media sosial twitter dipilih karena paling banyak digunakan oleh generasi milineal.

Riset terbaru oleh We Are Social, pada tahun 2020 disebutkan ada 175,4 juta penguna internet di Indonesia. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17 % atau 25 juta pengguna internet di Indonesia. (Sutoyo: 2018)

Berdasarkan total populasi di Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, artinya 64 persen penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Melalui laporan ini diketahui ada 160 juta pengguna aktif sosial media.  Pada tahun 2020 menemukan ada peningkatan pengguna Twitter hingga 10 juta jiwa yang kebanyakan adalah generasi milenial. (Sutoyo: 2018)

Ada sejumlah tujuan dan sasaran dari kegiatan penelitian Survei Opini Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Dan Fakultas Hukum Universitas Jayabaya Tentang Twitter Kemenristekdikti.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas Twitter sebagai sumber informasi bagi mahasiswa di Universitas Jayabaya.

Selain itu untuk mengetahui bagaimana efektivitas Twitter sebagai sumber informasi bagi mahasiswa   Universitas Jayabaya terkait Program Mahasiswa Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Serta Kendala dan hambatan apa yang ditemui mahasiswa Universitas Jayabaya dalam mencari informasi terkait program MBKM di Twitter.

Penelitian ini juga bertujuan bagaimana persepsi dan penilaian mahasiswa terhadap isi Twitter Kemenristekdikti terkait program MBKM.

Sasaran dari penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Mahasiswa kedua fakultas ini dipilih karena dianggap memiliki pengetahuan di bidang hukum dan komunikasi sehingga sangat berguna untuk melakukan analisis dalam menghadapi persoalan.

Mahasiswa juga dianggap sebagai generasi muda yang dikenal memiliki akses terhadap pengunaan media sosial seperti Twitter. Twitter dipilih dibanding media sosial lain seperti Instagram dan Facebook karena Twitter berisikan informasi yang penting untuk diketahui warga masyarakat.

 

Efektivitas merupakan suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan atau kegagalan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan. Sedangkan komunikasi adalah sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan akibat tertentu.

Menurut Onong Uchjana, efektivitas adalah efektivitas yang yang dilancarkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek kognitif, afektif dan konatif pada komunikan sesuai dengan tujuan komunikator (Effendy, 1989:113).

Konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstrak yang dibentuk dengan mengeneralisasikan objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan (Kriyantono, 2006:17). Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam karakteristik. Sedangkan kerangka konsep merupakan hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian. Konsep sendiri harus dirasionalkan dengan menggunakan variabel. Dikarenakan penelitian ini hanya untuk melihat efektivitas Twitter sebagai sumber informasi tentang kebijakan New Normal pada mahasiswa Fikom Universitas Jayabaya, maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah media sosial dan Twitter.

Media sosial meupakan suatu media di internet yang memungkinkan
pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama,
berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial
secara virtual (Nasrullah, 2015, hal. 11).

Karakteristik umum yang dimiliki setiap media sosial yaitu adanya
keterbukaan dialog antar para pengguna. Sosial media dapat dirubah oleh
waktu dan diatur ulang oleh penciptanya, atau dalam beberapa situs tertentu,
dapat diubah oleh suatu komunitas. Selain itu sosial media juga menyediakan
dan membentuk cara baru dalam berkomunikasi.

Twitter adalah situs microblog yang memberikan fasilitas bagi pengguna untuk mengirimkan sebuah pesan teks dengan panjang maksimal 140 karakter melalui SMS, pengirim pesan instan, surat elektronik. Twitter menghubungkan pertanyaan “Apa yang sedang anda lakukan saat ini?”dan menghubungkan pertanyaan tersebut kepada pengguna dengan kembali bertanya “What are you doing?” ( Hadi 2010: 2 ).

Twitter adalah sebuah situs jejaring sosial yang sedang berkembang pesat saat ini karena pengguna dapat berinteraksi dengan pengguna lainnya dari komputer ataupun perangkat mobile mereka dari manapun dan kapanpun. Setelah diluncurkan pada Juli 2006, jumlah pengguna Twitter meningkat sangat pesat. Pada September 2010, diperkirakan jumlah pengguna Twitter yang terdaftar sekitar 160 juta pengguna (Chiang, 2011).

Dari kuesioner yang terkumpul sebagai 53 jawaban yang dikirim oleh mahasiswa Angkatan 2021, Angkatan 2020, Angkatan 2019, Angkatan 2018 dan di bawah Angkatan 2018. Responden yang terbanyak memberikan jawaban melalui kuesioner yaitu mahasiswa Fakultas Hukum ketimbang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi.

Berdasarkan hasil survey diketahui;

Pertama, mayoritas mahasiswa mengetahui tentang Program Mahasiswa Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM)

Kedua, mayoritas menjawab tahu Program MBKM melalui media sosial seperti Facebook, Twotter, dan Tiktok). Sebagian mahasiswa lagi tahu tentang program MBKM dark informasi kampus dan melalui teman, saudara dan keluarga. Sedikit mahasiswa yang tahu dari media massa seperti televisi, radio dan suratkabar.

Ketiga, sebagian besar mahasiswa tahu Program MBKM ini merupakan unggulan Menristek Dikti Nadiem makarim

Keempat, sebagian besar mahasiswa menyatakan tidak pernah membuka Twitter Kemenristek Dikti, diikuti jawaban responden mahasiswa yang menjawab pernah buka tapi jarang.

Kelima, mayoritas mahasiswa menyatakan tidak pernah membaca Twitter Kemenristek Dikti tentang Program MBKM dan diikuti dengan mahasiswa yang menjawab pernah buka tapi jarang membaca Twitter Kemenristek Dikti. Namun, tidak ada yang menjawab tidak tertarik dengan Twitter Kemenristek Dikti

Keenam, mayoritas mahasiswa mengaku tahu tapi terlalu paham tentang Program Kampus Mengajar. Jawaban yang sama juga saat ditanyakan apakah mahasiswa tahu tentang Program Magang Bersertifikat

Ketujuh, mayoritas mahasiswa juga menjawab tahu tapi tidak terlalu paham soal program Pertukaran Mahasiswa dalam Program MBKM

Kedelapan, ini yang paling penting karena sebagian besar mahasiswa merasa bahwa pengetahuan dan keterampilan untuk masuk dunia kerja sudah memenuhi dari kampus. Jawaban ini menunjukkan mahasiswa tidak merasa memerlukan program MBKM sebagai modal untuk masuk dunia kerja karena mahasiswa merasa sudah cukup memperoleh ilmu pengetahuan dan keahlian dari kampus.

Berdasarkan hasil survei ini maka penelitian ini bisa disimpulkan yakni mayoritas mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Fakultas Hukum Universitas Jayabaya  tahu mengenai Twitter Kemenristek Dikti tentang Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) namun tidak terlalu paham.

Lebih penting lagi dari penelitian ini diketahui ternyata sebagian besar mahasiswa Fikom dan Fakultas Hukum Universitas Jayabaya merasa sudah cukup mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai modal kerja dari kampus atau universitas sehingga mereka merasa tidak perlu untuk mengikuti program MBKM. Padahal, program MBKM justru dibuat untuk menambah pengetahuan dan keahlian mahasiswa dari luar kampus sebagai bekal untuk bekerja sesudah lulus.

            Melalui hasil penelitian yang didasarkan pada angket yang disebar untuk menjaring pendapat mahasiswa terkait program MBKM di Twitter Kemenristek Dikti, terdapat dua saran.

Pertama, Kemenristek Dikti harus lebih intensif mensosialisasikan program dan kebijakan MBKM kepada mahasiswa

Kedua, Kemenristek Dikti harus memperbaiki isi dan tampilan Twitter khususnya yang berisikan informasi tentang program dan kebijakan MBKM sehingga mahasiswa bisa tertarik untuk membaca dan memahaminya. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here